Rabu, 22 Juni 2011

Sifat-sifat Manusia Menurut Al-Qur'an

1. Bodoh, tidak mengetahui, aniaya (14:34/33:72)
"Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya.Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)". (QS. 14:34)

"Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh"
(QS. 33:72)
2. Lemah (4:28)
"Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah". (QS. 4:28)
3. Keluh kesah (70:19)
"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir". (QS. 70:19)
4. Kikir (70:19/17:100)
"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir". (QS. 70:19)
Katakanlah: "Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Rabbku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya." Dan adalah manusia itu sangat kikir. (QS. 17:100)
6. Melampaui batas (96:6)
Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, (QS. 96:6)
7. Tergesa-gesa (17:11/21:37)
.... Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa. (QS. 17:11)
Manusia telah dijadikan (bertabiat)tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda(azab)-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera. (QS. 21:37)
9. Putus asa (17:83)
Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia: dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa. (QS. 17:83)
10. Banyak menentang (18:54)
Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam al-Qur'an ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah. (QS. 18:54)
11. Enggan bersyukur (41:51/42:48/100:6-7)
Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdo'a. (QS. 41:51)
....Sesungguhnya apabila Kami merasakan kepada manusia sesuatu rahmat dari Kami dia bergembira ria karena rahmat itu.Dan jika mereka ditimpa kesusahan disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri (niscaya mereka ingkar) karena sesungguhnya manusia itu amat ingkar (kepada nikmat). (QS. 42:48)
12. Merasa cukup (96:6-7)
Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. (QS. 96:6-7)
13. Sombong (17:83)
Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia: dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa. (QS. 17:83)
14. Hanif (30:30)
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.(Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (QS. 30:30)
15. Mengabdi (2:165/51:56)
Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapan orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada Hari Kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksa-Nya (niscaya mereka menyesal). (QS. 2:165)
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. 51:56)
16. Memilih (2:256/10:99)
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Taghut dan beriman kepada Allah, maka sesunguhnya ia tela berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. 2:256)
Dan jikalau Rabbmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya (QS. 10:99)
17. Cinta (2:165/3:14)
Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada Hari Kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksa-Nya (niscaya mereka menyesal). (QS. 2:165)
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. 3:14)
18. Berjamah (49:13)
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. 49:13)

Senin, 20 Juni 2011

ARTI NAMA PRIA JAWA

Dibalik nama-nama pria Jawa sesungguhnya ada harapan
tertentu dari orangtuanya, agar anaknya kelak bisa
sesuai yg diharapkan.

Contohnya:

Pandai menanam bunga, diberi nama Rosman.

Pandai memperbaiki mobil, diberi nama Karman.

Pandai main golf, Parman.

Pandai dalam korespondensi, Suratman.

Gagah perkasa, Suparman.

Kuat dalam berjalan, Wakiman.

Berani bertanya, Asman.

Ahli membuat kue, Paiman.

Pandai berdagang, Saliman.

Pandai melukis, Saniman.

Agar jadi orang kaya, Sugiman.

Agar besar nanti padai cari muka, Yasman

Suka begituan, Pakman

Suka makan toge goreng, Togiman

Selalu ketagihan, Tuman

Suka telanjang, Nudiman

Selalu sibuk terus, Bisiman

Biar pinter main game ... Giman

Biar bisa sering cuti ... Sutiman

Biar jadi juragan sate ... Satiman

Biar jadi juragan trasi ... Tarsiman

Biar pinter memecahkan problem ... Sukarman

Biar kalau ujian ndak usah mengulang ... Herman

Biar pinter bikin jus ... Yusman

Biar jadi orang yang berwibawa ... Jaiman

Biar jadi pemain musik ... Basman

Biar awet muda ... Boiman

Biar pinter berperang ... Warman

Biar jadi orang Bali ... Nyoman

Biar jadi orang Sunda ... Maman

Biar lincah seperti monyet ... Hanoman

Biar jadi orang Belanda ... Kuman

Biar tetep tinggal di Jogja ... Sleman

Biar jadi tukang sepatu handal ... Soleman

Biar tetep bisa jalan walau ndak pake mesin ...
Delman

"Menuju Kehidupan Sebenarnya"

Oleh Ihsan Tandjung
Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: ”Pada saat manusia menemui kematiannya, maka iapun terbangun dari tidurnya.”
Berarti, kehidupan kita di dunia ini laksana sebuah mimpi. Hal ini sejalan dengan firman Allah:
وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآَخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui” (QS Al-Ankabut 64)
Dalam kenyataan sehari-hari tidak sedikit manusia yang justru sangat serius dengan kehidupan dunia ini sambil memandang kehidupan akhirat -dengan derita neraka dan nikmat surganya- justru sebagai senda gurau dan main-main. Manusia sedemikian seriusnya ingin meraih kenikmatan dan keberhasilan dunia seolah itu semua merupakan kenikmatan dan keberhasilan final dan hakiki. Mereka berusaha sekuat mungkin menghindar dari kegagalan dan penderitaan dunia seolah itulah kegagalan dan penderitaan yang sejati.
Padahal kehidupan di dunia telah Allah taqdirkan bagi setiap manusia. Ada yang ditaqdirkan menikmati ”mimpi menyenangkan” di dunia. Ia menjadi orang kaya, terpandang, dipuja-puji manusia banyak, serba berkecukupan sehingga hidupnya selalu berlimpah. Sementara ada yang di taqdirkan mengalami ”mimpi buruk” selama hidupnya di dunia. Ia menjadi orang miskin, serba berkekurangan, terpinggirkan, terabaikan bahkan teraniaya.
Sedikit sekali manusia yang menyadari bahwa mimpi manapun yang dialaminya tidaklah menjadi persoalan penting. Kendati, sudah barang tentu, tidak ada manusia yang ingin menjalani kehidupan berupa mimpi buruk menjadi orang miskin, serba berkekurangan, terpinggirkan, terabaikan bahkan teraniaya. Demikian pula sebaliknya. Manusia mana yang menolak ditaqdirkan Allah menjalani kehidupan dalam bentuk mimpi menyenangkan menjadi orang kaya, terpandang, dipuja-puji manusia banyak, serba berkecukupan sehingga hidupnya selalu berlimpah. Tapi seorang mu’min sungguh sadar bahwa isyu utama yang perlu difikirkan adalah bagaimana nasibnya saat Allah mencabut nyawanya. Adapun jenis mimpi apa yang Allah taqdirkan bagi dirinya hanyalah sebuah ujian/testcase untuk melihat jenis respon apa yang bakal ditampilkannya. Persis seperti ucapan Nabi Muhammad saw sebagai berikut:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Urusan orang beriman itu menakjubkan. Sesungguhnya urusannya semua baik. Dan hal itu tidak dialami seorangpun kecuali orang beriman. Bila ia mendapat karunia, ia bersyukur. Maka bersyukur itu baik baginya. Bila ia mendapat mudharat, ia bersabar. Maka bersabar itu baik baginya.” (Muslim 14/280)
Alangkah bodohnya seseorang yang hidup di dunia dalam mimpi meyenangkan namun ia lalai akan saat kematian. Sehingga saat ia bangun dari mimpinya ia berada dalam kegelisahan dan penyesalan berkepanjangan. Apalagi orang yang hidup di dunia dan menjalani mimpi buruk. Lalu saat ia bangun menjalani hidupnya di akhirat, ternyata keadaannya lebih buruk lagi, penuh penyesalan dan penderitaan abadi. Demikianlah keadaan orang-orang yang tidak beriman akan kehidupan akhirat. Mereka menyangka hidup hanya di dunia semata. Mereka tertipu oleh dunia. Allah gambarkan logika berfikir mereka sebagai berikut:
وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ
وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ
“Dan mereka berkata, "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS Al-Jatsiyah 23-24)
Sedangkan orang beriman sangat yakin dan selalu mempersiapkan dirinya menghadapi kehidupan sejati, yakni akhirat. Sebab mereka diberitahu Allah bahwa akhirat itulah yang hendaknya didambakan.
تُرِيدُونَ عَرَضَ الدُّنْيَا وَاللَّهُ يُرِيدُ الْآَخِرَةَ
“...kalian menghendaki harta benda dunia, sedangkan Allah menghendaki akhirat (untukmu)…” (QS Al-Anfal 67)
Orang beriman sibuk bukan untuk masa tuanya di dunia. Tapi ia sibuk mempersiapkan berbagai investasi berupa ’amal ’ibadah dan ’amal sholeh untuk masa hidupnya yang sejati, yakni akhirat.
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ
(الترمذي)
“Orang yang paling cerdas ialah barangsiapa yang menghitung-hitung/evaluasi/introspeksi (‘amal-perbuatan) dirinya dan ber’amal untuk kehidupan setelah kematian.”(At-Tirmidzi 8/499 )
Ia sangat terobsesi akan keberhasilannya di akhirat sehingga keberhasilannya di dunia menjadi sesuatu yang ia kejar secukupnya. Ia sangat sibuk menghindari kegagalan di akhirat sehingga berbagai kegagalan di dunia ia hindari sewajarnya. Ingatannya akan akhirat sangat dominan sehingga ingatannya akan dunia menjadi sebatas ”asal tidak lupa” bahwa ia masih hidup di dunia.
وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi..” (QS Al-Qashash 77)

Rabu, 08 Juni 2011

Seledri Mengobati Darah Tinggi

Para ibu rumah tangga pasti sudah mengenal daun ini. Sebab, seledri sering
digunakan untuk campuran masakan. Sayur sop, dan soto adalah sebagian masakan
yang dibubuhi seledri. Penjual bakso juga sering menggunakan daun ini.
Selain sebagai campuran masakan, seledri (Apium graveolens L) bisa dimanfaatkan
untuk menjaga kesehatan.
Tanaman ini diyakini para ahli mengandung vitamin A, C, dan B1. Selain itu,
seledri juga mengandung banyak mineral, seperti sodium, klorin, potasium
(kalium), dan magnesium. Tingginya kadar sodium dalam seledri sangat berguna
untuk menjaga vitalitas tubuh.
Seledri bisa tumbuh dengan baik di dataran tinggi maupun rendah. Beberapa daerah
di Indonesia yang terkenal sebagai penghasil tanaman ini antara lain Brastagi,
Sumatera Barat, dan sejumlah daerah di ! Jawa Barat seperti Cipanas, Pacet, dan
Pengalengan.
Tanaman seledri memiliki bonggol dan memiliki batang basah bersusun. Menurut
para ahli, tanaman ini sudah dimanfaatkan sebagai sayuran sejak abad ke-27, atau
sekitar era 1640-an.
Seledri dikenal memiliki khasiat menyembuhkan hipertensi (tekanan darah tinggi).
Masyarakat di daerah pedesaan sudah begitu akrab dengan seledri untuk menurunkan
panas badan. Bila anak terserang panas tinggi, mereka akan menumbuk seledri dan
mengoleskan seledri yang ditumbuk. Banyak juga yang menggunakan air perasan daun
seledri untuk menghitamkan rambut. Ini diyakini tidak menimbulkan efek samping.
Seledri juga diyakini bisa menyembuhkan berbagai penyakit, seperti diare,
diabetes, epilepsi, migran, buang air kecil yang mengandung darah, mencegah
stroke, memperbaiki fungsi hormon, serta membersihkan darah. Jus seledri dari
seledri berdaun besar bisa meningkatkan kecerdasan, mengatasi herpes, dan
gondokan.
Tanaman ini juga bisa digunakan untuk mengobati sakit mata. Caranya, sebanyak
dua tangkai seledri, ditambah dua tangkai daun bayam, dan satu tangkai kemangi,
lalu ditumbuk dan diseduh dengan satu gelas air panas. Airnya disaring dan
diminum.
Untuk mengobati tekanan darah tinggi, daun seledri secukupnya lalu diperas
dengan air masak, dan disaring. Kemudian air ini diminum tiga kali sehari
sebanyak dua sendok makan. Agar hasilnya maksimal, ini dilakukan secara teratur,
dan penggunaannya tidak berlebihan.
Mereka yang menderita rematik juga bisa memanfaatkan tanaman ini. Caranya,
setiap hari mengonsumsi setangkai daun seledri pada waktu makan.

digunakan untuk campuran masakan. Sayur sop, dan soto adalah sebagian masakan
yang dibubuhi seledri. Penjual bakso juga sering menggunakan daun ini.
Selain sebagai campuran masakan, seledri (Apium graveolens L) bisa dimanfaatkan
untuk menjaga kesehatan.
Tanaman ini diyakini para ahli mengandung vitamin A, C, dan B1. Selain itu,
seledri juga mengandung banyak mineral, seperti sodium, klorin, potasium
(kalium), dan magnesium. Tingginya kadar sodium dalam seledri sangat berguna
untuk menjaga vitalitas tubuh.
Seledri bisa tumbuh dengan baik di dataran tinggi maupun rendah. Beberapa daerah
di Indonesia yang terkenal sebagai penghasil tanaman ini antara lain Brastagi,
Sumatera Barat, dan sejumlah daerah di ! Jawa Barat seperti Cipanas, Pacet, dan
Pengalengan.
Tanaman seledri memiliki bonggol dan memiliki batang basah bersusun. Menurut
para ahli, tanaman ini sudah dimanfaatkan sebagai sayuran sejak abad ke-27, atau
sekitar era 1640-an.
Seledri dikenal memiliki khasiat menyembuhkan hipertensi (tekanan darah tinggi).
Masyarakat di daerah pedesaan sudah begitu akrab dengan seledri untuk menurunkan
panas badan. Bila anak terserang panas tinggi, mereka akan menumbuk seledri dan
mengoleskan seledri yang ditumbuk. Banyak juga yang menggunakan air perasan daun
seledri untuk menghitamkan rambut. Ini diyakini tidak menimbulkan efek samping.
Seledri juga diyakini bisa menyembuhkan berbagai penyakit, seperti diare,
diabetes, epilepsi, migran, buang air kecil yang mengandung darah, mencegah
stroke, memperbaiki fungsi hormon, serta membersihkan darah. Jus seledri dari
seledri berdaun besar bisa meningkatkan kecerdasan, mengatasi herpes, dan
gondokan.
Tanaman ini juga bisa digunakan untuk mengobati sakit mata. Caranya, sebanyak
dua tangkai seledri, ditambah dua tangkai daun bayam, dan satu tangkai kemangi,
lalu ditumbuk dan diseduh dengan satu gelas air panas. Airnya disaring dan
diminum.
Untuk mengobati tekanan darah tinggi, daun seledri secukupnya lalu diperas
dengan air masak, dan disaring. Kemudian air ini diminum tiga kali sehari
sebanyak dua sendok makan. Agar hasilnya maksimal, ini dilakukan secara teratur,
dan penggunaannya tidak berlebihan.
Mereka yang menderita rematik juga bisa memanfaatkan tanaman ini. Caranya,
setiap hari mengonsumsi setangkai daun seledri pada waktu makan.

Sabtu, 04 Juni 2011

WARTEG pelopor touch screen


Ternyata Technology “Touch Screen” penemu
pertamanya adalah pengusaha Warung Nasi
Tegal (WARTEG). Ini kisahnya:
Pada suatu saat seorang Ilmuwan Manca
Negara makan di WARTEG. Setiap
PENGUNJUNG yang datang ditanya oleh
Pelayan Warteg:
Pelayan: “Makan pake apa?”
Pengunjung menempelkan jarinya ke kaca
(menunjuk makanan di baliknya)
Pelayan: “Makan pake apa lagi?”
Pengunjung menempelkan jarinya ke kaca lagi.
Pelayan: “Apa lagi?”
Pengunjung kembali menempelkan jarinya ke
kaca…
Beberapa detik kemudian makananpun sudah
siap tersaji.
SANG ILMUWAN pun berdecak kagum,
ternyata technology di Indonesia luar biasa
majunya.
Tak ayal lagi merekapun menjiplaknya untuk
PDA, Blackberry Torch, iPod, iPhone, dan Ipad.

Selasa, 31 Mei 2011

Ibadah

Kadangkala ketika kita lelah menghadapi aneka masalah hidup di dunia, kita sering bertanya,
“sesungguhnya apakah tujuan kita dihidupkan?” Bahkan tidak jarang orang-orang yang menderita penyakit parah berkepanjangan juga melontarkan pertanyaan serupa. Namun pertanyaan tersebut di luar dugaan pernah terlontar pula dari seseorang yang kaya raya. Padahal uangnya melimpah dan setiap hari berfoya-foya. Tetapi ternyata rutinitas yang menggembirakan itu membuatnya berkalang jenuh. Pada batas kesadarannya ia pun mengajukan pertanyaan yang sama.
Akan tetapi bagi orang yang beriman, dalam keadaan bagaimana pun, tujuan hidupnya sangatlah jelas
yaitu untuk beribadah. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka
menyembah-Ku.
” (QS. Adz Zariyat: 56) ” … oleh sebab itu sembahlah Dia dan teguhlah untuk menyembah-Nya.” (QS. Maryam: 65) Jika miskin ia akan berusaha sekuat tenaga mencari nafkah, karena bekerja itu ibadah. Apabila kaya-raya, ia juga bisa memanfaatkan harta tersebut untuk beribadah kepada Allah SWT dengan meringankan beban fakir miskin dan anak-anak yatim.
Sekalipun beribadah itu tujuan hidup kita, namun janganlah berlebihan. Abdullah ibnu ‘Amr ra.
mengungkapkan, bahwa Nabi saw. bertanya kepadanya, “Aku telah mendengar berita bahwa engkau senantiasa sholat sepanjang malam, dan selalu berpuasa di siang harinya.“Abdullah ibnu ‘Amr menjawab, “Ya aku mengerjakan hal tersebut.” Lalu Rosulullah saw. bersabda, “Sungguh jika engkau mengerjakan hal itu niscaya matamu mengantuk dan tubuhmu lemah. Sungguh engkau berkewajiban memenuhi hak tubuhmu dan keluargamu, karena itu berpuasalah dan berbukalah. Sholatlah dan tidurlah“. (HR Syaikhon)
Aisyah ra. menuturkan, bahwa Nabi saw. datang untuk menggilirinya. Pada saat itu Aisyah sedang
bersama seorang wanita. Nabi saw. bertanya, “Siapakah wanita ini?” Aisyah menuturkan, “Ya Rosulullah, dia adalah penduduk Madinah yang paling banyak ibadahnya. Dia tidak pernah tidur malam.” Nabi Muhammad Rosulullah saw. bersabda, “Kerjakanlah ibadah menurut kemampuan kalian. Demi Allah, Dia tidak akan bosan sehingga kalian sendirilah yang bosan. Amal ibadah yang paling disukai oleh Allah SWT adalah yang dikerjakan secara terus-menerus“. (HR Lima Ahli Hadits kecuali Tirmidzi).
Kedua hadits di atas menegaskan bahwa kita tidak diperbolehkan ibadah secara berlebihan hingga tidak tidur malam. Sebab ibadah yang paling disukai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus
(rutin/berkelanjutan) walaupun sedikit. Misalnya sholat dhuha cukup dua rokaat saja, namun dilakukan
setiap hari. Atau sholat tahajud sebanyak dua rokaat saja, tetapi dilakukan setiap malam. Demikian
juga dengan ibadah membaca Al Qur-an harus dilakukan secara rutin setiap hari, walaupun yang dibaca hanya satu ‘ain (ruku’). Hal itu ditegaskan dalam hadits berikut ini. Aisyah mengemukakan, Rosulullah saw. pernah ditanya (oleh seseorang), “Amal apakah yang paling disukai oleh Allah?” Lalu Rosulullah saw. menjawab, “Yang terus menerus dilakukan sekalipun sedikit.” (HR Syaikhon d Tirmidzi)
A. Makna Ibadah
Apakah ibadah itu? Ditinjau dari segi bahasa, ibadah memiliki arti taat atau patuh atau menurut. Para
ahli tauhid mengartikan ibadah dengan meng-Esakan Allah serta menundukkan diri dan jiwa kita
kepada-Nya. Makna ini didasarkan pada ayat, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.” (QS. An Nisa’: 36). Namun ibadah, menurut Ahli fiqih, adalah apa yang kita kerjakan untuk meraih keridhoan Allah dan mengharap pahala-Nya di akhirat kelak.
Agar ibadah kita itu mendapatkan ridho dari Allah SWT, maka ada dua syarat yang harus dipenuhi.
1. Sah. Maksudnya perbuatan ibadah (misalnya sholat atau puasa atau haji yang kita kerjakan) tersebut harus sesuai dengan ketentuan hukum Islam.
2. Ikhlas, yakni mengerjakannya semata-mata karena Alllah. Bukan karena mengharap dipuji oleh sesama manusia. Katakanlah (Hai Muhammad), “Sesungguhnya aku diperintahkan agar menyembah Allah dan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama. Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri.” (QS. Az Zumar: 11-12)
B. Macam-macam Ibadah
Praktek ibadah sangatlah beragam, tergantung dari sudut mana kita meninjaunya.
1. Dilihat dari segi umum dan khusus, maka ibadah dibagi dua macam:
a) Ibadah Khoshoh adalah ibadah yang ketentuannya telah ditetapkan dalam nash (dalil/dasar hukum)
yang jelas, yaitu sholat, zakat, puasa, dan haji;
b) Ibadah Ammah adalah semua perilaku baik yang dilakukan semata-mata karena Allah seperti bekerja, makan, minum, dan tidur sebab semua itu untuk menjaga kelangsungan hidup dan kesehatan jasmani supaya dapat mengabdi kepada Allah SWT.
2. Ditinjau dari kepentingan perseorangan atau masyarakat, ibadah ada dua macam:
a) ibadah wajib (fardhu) seperti sholat dan puasa;
b) ibadah ijtima’i, seperti zakat dan haji.
3. Dilihat dari cara pelaksanaannya, ibadah dibagi menjadi tiga:
a) ibadah jasmaniyah dan ruhiyah (sholat dan puasa)
b) ibadah ruhiyah dan amaliyah (zakat)
c) ibadah jasmaniyah, ruhiyah, dan amaliyah (pergi haji)
4. Ditinjau dari segi bentuk dan sifatnya, ibadah dibagi menjadi:
a) ibadah yang berupa pekerjaan tertentu dengan perkataan dan perbuatan, seperti sholat, zakat,
puasa, dan haji;
b) ibadah yang berupa ucapan, seperti membaca Qur’an, berdoa, dan berdzikir;
c) ibadah yang berupa perbuatan yang tidak ditentukan bentuknya, seperti membela diri, menolong orang lain, mengurus jenazah, dan jihad;
d) ibadah yang berupa menahan diri, seperti ihrom, berpuasa, dan i’tikaf (duduk di masjid); dan
e) ibadah yang sifatnya menggugurkan hak, seperti membebaskan hutang, atau membebaskan hutang orang lain.
Apapun macam ibadah yang akan kita lakukan, yang pasti selalu menghadapi godaan baik yang berasal
dari hawa nafsu kita sendiri maupun dari setan. Antara lain: perasaan malas yang luar biasa. Selain
itu yang lebih penting untuk diingat adalah, janganlah sekali-kali kita menghalangi orang lain untuk
beribadah. Sebab ancaman hukumannya dari Allah SWT luar biasa pedihnya. Orang yang menghalangi orang beribadah mendapat siksaan dunia akhirat. “Dan siapakah yang lebih aniaya (selain) dari orang-orang yang menghalangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu fidak sepatutnya masuk ke dalamnya (masjid Allah), kecuali dengan rasa takut. Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat azab yang besar.” (QS. Al Baqarah: 114)
—oOo—

Sabtu, 28 Mei 2011

Tabayun dalam Kebersamaan

Thursday, 07 August 2008 14:55 H. Amin Santoso

Siapa pun kita, selalu ada ‘cacat’. Ada ‘cacat’ berupa ketidaksempurnaan fisik: rupa, penampilan, dan sebagainya. Ada juga ‘cacat’ berupa kelalaian ketika pertarungan antara nafsu dan akal berakhir negatif. Nafsulah yang akhirnya membuat keputusan. Saat itulah, seorang anak manusia melakukan kesalahan. Seperti itu pulakah yang terjadi pada diri seorang mukmin?
Terdapat beberapa riwayat tentang peristiwa berita bohong yang harus diteliti kebenarannya dari seorang Al-Walid bin Uqbah bin Abi Mu’ith tatkala ia diutus oleh Rasulullah untuk mengambil dana zakat dari Suku Bani Al-Musththaliq yang dipimpin oleh Al-Harits bin Dhirar. Al-Walid malah menyampaikan laporan kepada Rasulullah bahwa mereka enggan membayar zakat, bahkan berniat membunuhnya, padahal ia tidak pernah sampai ke perkampungan Bani Musththaliq. Kontan Rasulullah murka dengan berita tersebut dan mengutus Khalid untuk mengklarifikasi kebenarannya, sehingga turunlah ayat ini-
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah (kebenarannya) dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (Q.S. Al-Hujurat/49: 6)
Ayat yang mengingatkan bahaya berita palsu yang coba disebarkan oleh orang fasik hampir berakibat terjadinya permusuhan antar sesama umat Islam saat itu. Yang menjadi catatan disini bahwa peristiwa ini justru terjadi di zaman Rasulullah yang masih sangat kental dan dominan dengan nilai-nilai kebaikan dan kejujuran. Lantas bagaimana dengan zaman sekarang yang makin sukar mencari sosok yang jujur dan senantiasa beri’tikad baik dalam setiap berita dan informasi yang disampaikan?.
Secara bahasa, kata fasiq dan naba’ yang menjadi kata kunci dalam ayat di atas disebut dalam bentuk nakirah (indifinitive) sehingga menunjukkan seseorang yang dikenal dengan kefasikannya serta menunjukkan segala bentuk berita dan informasi secara umum, berita yang besar atau kecil, yang terkait dengan masalah pribadi atau sosial, apalagi berita yang besar yang melibatkan segolongan kaum atau komunitas tertentu yang berdampak sosial yang buruk.
Dari riwayat di atas kita sebagai seorang mukmin layak mengambil hikmahnya. Bahwa kebersamaan kadang tidak selamanya seperti rumput. Selalu setara, sewarna, dan segerak. Ada saja kekurangan di antara sesama mukmin. Karena umumnya manusia memang tidak bisa luput dari aib.
Tak ada gading yang tak retak. Itulah ungkapan sederhana yang memuat makna begitu dalam. Sebuah pengakuan bahwa setiap manusia punya kelemahan dan kekurangan.
Siapa pun kita, selalu ada ‘cacat’. Ada ‘cacat’ berupa ketidaksempurnaan fisik: rupa, penampilan, dan sebagainya. Ada juga ‘cacat’ berupa kelalaian ketika pertarungan antara nafsu dan akal berakhir negatif. Nafsulah yang akhirnya membuat keputusan. Saat itulah, seorang anak manusia melakukan kesalahan. Seperti itu pulakah yang terjadi pada diri seorang mukmin?
Kadang orang lupa kalau seorang mukmin pun juga manusia. Bukan malaikat yang selalu bersih tanpa noda. Sinar iman yang ada dalam hatilah yang akhirnya menentukan, apakah nafsu yang lagi-lagi bicara, atau iman yang mengambil keputusan.
Pertarungan itu begitu sengit. Kekuatan dalam diri saja belum cukup. Karena masing-masing pihak meminta bantuan pihak luar diri. Iman dalam hati dibantu oleh nasihat dan doa dari saudara seiman. Dan nafsu dibantu dengan rayuan setan. Kalau nafsu dan rayuan setan yang jadi pemenang, seorang mukmin tergelincir dalam sebuah kesalahan, kecil atau besar.
Dari situlah kita mengerti kalau seorang mukmin pun bisa melakukan kesalahan. Tapi, sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang menyesal dan meminta ampunan.
Maha Benar Allah dalam firman-Nya dalam surah Ali ‘Imran ayat 135, “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”
Lalu, patutkah kelalaian dan ketergelinciran itu menjadi bahan gunjingan ?. Patutkah keburukan yang kita sebut aib itu disebarkan ?. Sebagian orang mungkin menyebutnya sebagai risiko. “Siapa yang berbuat, harus menanggung akibat!” ucapan itu boleh jadi keluar merespon keburukan yang terjadi pada saudara mukmin. Termasuk mendapat gunjingan isu yang tidak mengenakkan.
Namun, patutkah kalau gunjingan dan menyebarnya aib disebut sebagai hukuman yang setimpal ?. Adilkah mengumumkan aib seseorang sebagai sebuah hukuman ?. Persoalan ini akan meluas ketika berhubungan dengan hukum dan keadilan.
Memang, ada sedikit salah pemahaman antara menyebarkan aib dengan pengumuman hukuman. Menyebarkan aib, apa pun alasannya, tetap terlarang karena bukan itu cara yang dibenarkan Islam. Sementara pengumuman hukuman berkait dengan penegakan hukum dan peringatan buat yang membaca pengumuman. Agar, perbuatan seperti itu jangan pernah dilakukan. Dan dalam hal ini mengandung proses pembelajaran bagi orang lain.
Repotnya ketika sebagian orang lebih enjoy dengan menyebarkan aib sebagai dalih hukuman. Isu dan gosip pun jadi kebiasaan. Aib seorang mukmin menjadi tersebar tak karuan.
Yang jadi pertanyaan, bagaimana mungkin seorang mukmin ringan mengumbar aib saudaranya. Padahal, sudah jelas-jelas Allah swt. melarang menceritakan keburukan sesama mukmin. Firman-Nya dalam surah Al-Hujurat ayat 12, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan seorang mukmin tega mengumbar aib saudaranya.
Pertama
Lemahnya pancaran iman dalam hatinya. Iman yang lemah mengecilkan hubungan mulia antarsesama mukmin. Tidak ada lagi keberpihakan. Tidak ada lagi pembelaan terhadap saudara yang sedang ‘jatuh’. Semua menjadi gersang. Kering.
Kedua.
Tersumbatnya nalar sehat. Nalar yang jernih akan menggiring seorang mukmin melakukan cek dan ricek. Periksa dan tabayun. Karena boleh jadi, kabar yang tersiar berbeda jauh dari fakta yang sebenarnya. Ada bumbu. ada fitnah. Seperti Firman Allah swt. dalam surah Al-Hujurat ayat 6 di atas.
Ketiga.
Lunturnya nilai-nilai sosial dalam diri seseorang. Orang seperti itu biasanya mudah iri, dengki, dan mutung. Persoalan kecil yang sebenarnya bisa selesai dengan saling memaafkan, bisa panjang karena cara berpikir yang kerdil. Cacat yang tergolong biasa pada diri seseorang, diolah, dan disebarkan menjadi masalah besar.
Ada kemungkinan yang lain. Seseorang terhinggapi penyakit merasa serba tahu. Urusan yang sebenarnya masih samar, terlihat seperti jelas. Ia malu kalau orang menganggapnya tidak tahu. Dari situlah, membuat-buat cerita berlangsung cepat. Orang seperti itu pula yang tidak bisa memegang rahasia. Padahal rahasia dalam nilai Islam merupakan amanah. Rahasia besar atau kecil.
Hidup dalam kebersamaan memang sulit seperti rerumputan. Setara, sewarna, dan sederajat. Tapi yakinlah, kebersamaan sesama mukmin jauh lebih mulia dari apa pun. Karena kebersamaan itu selalu dalam gerak. Sedangkan rerumputan senantiasa diam.
Karena itu marilah kita sesama mukmin selalu dalam kebersamaan, tidak selalu menyebar gossip dan aib sesama kita. Mendengarkan atau melihat berita-berita gossip dan aib sesama kita. Marilah kita hidup dalam kebersamaan yang sejuk damai dan penuh pengertia